Kriminal

DPR Soroti Dugaan Kekerasan Orientasi Komunitas Pencinta Alam di Bitung


Admin - ABBITV.com

03 Oct 2025 07:00 WIB

DPR Soroti Dugaan Kekerasan Orientasi Komunitas Pencinta Alam di Bitung
Dokumentasi: DPR Soroti Dugaan Kekerasan Orientasi Komunitas Pencinta Alam di Bitung - ABBITV
Jakarta, ABBITV.com – Sejumlah remaja di Bitung, Sulawesi Utara, diduga mengalami tindak kekerasan saat mengikuti orientasi penerimaan anggota baru komunitas pencinta alam.

Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan pentingnya penegakan hukum dalam kasus tersebut.
“Kami mendukung proses hukum yang telah dilakukan Polres Bitung dan mengingatkan semua pihak bahwa kegiatan apa pun yang melibatkan anak dan remaja harus menjadi ruang yang aman untuk pengembangan diri, bukan tempat praktik kekerasan diwariskan,” ujar Hadrian kepada wartawan, Kamis (2 Oktober 2025).
Hadrian menambahkan bahwa pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga seluruh ekosistem masyarakat.

Ia meminta organisasi nonformal, termasuk komunitas pencinta alam, mengevaluasi mekanisme penerimaan anggota baru dan menghapus segala bentuk perpeloncoan.

“Sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan perlu diperkuat untuk memastikan setiap kegiatan yang melibatkan peserta didik, baik di dalam maupun di luar sekolah, benar-benar membangun karakter yang berintegritas dan menghargai harkat martabat manusia,” jelasnya.
Politisi tersebut juga menyampaikan keprihatinan atas insiden dugaan kekerasan.

“Kami menyatakan keprihatinan mendalam atas inspek kekerasan dalam orientasi komunitas pencinta alam di Bitung,” tuturnya.
Korban Diduga Ditampar Belasan Senior
Sebelumnya, seorang remaja berinisial AA (16) dilaporkan menjadi korban kekerasan dalam kegiatan orientasi Himpunan Penjelajah Alam Terbuka Spizaetus (Himpasus) Bitung yang berlangsung di Gunung Dua Sudara pada 26–28 September 2025.
Kuasa hukum keluarga korban, Bili Ladi, mengatakan AA diduga ditampar lebih dari 10 seniornya secara bergiliran.

“Menurut korban ini, dilakukan lebih dari 10 orang yang memukul secara bergantian, hanya yang terekam dua orang, karena mata ditutup jadi mereka tidak berani buka,” ucap Bili dilansir detikSulsel, Kamis (2 Oktober 2025).

Ia menjelaskan bahwa korban meminta izin orang tuanya untuk ikut kegiatan tersebut karena sejak SMP memiliki hobi mendaki.

“Kan anak ini sudah sejak SMP hobi mendaki.

Dan ibunya sangat support kegiatan ini untuk persiapkan dirinya masuk TNI kalau lulus SMA nanti,” kata Bili.
Polisi Lakukan Penyelidikan
Kasi Humas Polres Minahasa, Iptu Abdul Natip Anggai, menyatakan pihaknya tengah melakukan penyelidikan atas kasus tersebut.

“Kasusnya sedang ditangani Satreskrim.

Saat ini sedang pendalaman kasusnya untuk diproses sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik dan DPR, dengan desakan agar mekanisme penerimaan anggota komunitas pencinta alam benar-benar menjamin keamanan serta menghargai martabat peserta didik.
← Home ← halaman sebelumnya