Ubed, Doa dari Sampang Bawa Emas Asian Games 2026
29 Sep 2026 10:15 WIB
Jakarta, ABBITV.com - Mohammad Zaki Ubaidillah berdiri di titik paling menentukan dalam perjalanan tim bulu tangkis beregu putra Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Usianya baru 19 tahun, tetapi malam itu ia memikul tanggung jawab besar: memenangkan partai kelima untuk memastikan Indonesia merebut medali emas.
Indonesia dan China bermain imbang 2-2 pada final yang berlangsung di Ichinomiya, Jepang, Kamis (24/9/2026). Seluruh harapan Indonesia kemudian tertuju kepada Ubed, sapaan akrab Zaki, yang harus menghadapi tunggal putra China, Weng Hongyang.
Di tengah ketegangan sebelum pertandingan, Ubed melakukan sesuatu yang sederhana. Dari bangku pemain, ia mengambil telepon dan menghubungi kedua orang tuanya di Sampang, Madura. Bukan untuk membicarakan strategi pertandingan, melainkan meminta doa.
“Sudah telepon orang tua di bench itu. Minta doa dari mereka, karena saya merasa tegang,” kata Ubed seusai pertandingan.
Bagi Ubed, menelepon orang tua sebelum pertandingan bukan kebiasaan yang baru muncul di Asian Games. Sejak masih muda, ia selalu mencari suara ayah dan ibunya sebelum memasuki lapangan.
Dalam wawancara dengan Mojok menjelang Indonesia Masters 2026, Ubed bercerita bahwa telepon menjadi salah satu cara untuk mengatasi rasa rindu kepada keluarga. Sejak kecil ia harus meninggalkan Sampang demi mengejar cita-cita menjadi pebulutangkis. Setiap kali rindu rumah datang, suara orang tua menjadi salah satu sumber semangatnya.
Jauh dari Rumah Sejak Bangku Sekolah
Ubed lahir di Sampang, Madura, pada 26 Juni 2007. Kecintaannya terhadap bulu tangkis bermula dari sang ayah, Bambang Suharyadi, yang pertama kali melatihnya secara otodidak.
Bambang mengajak Ubed mengikuti berbagai turnamen lokal. Bakat anaknya kemudian berkembang dan mendorong keluarga untuk mencari tempat latihan yang lebih baik.
Sejak kelas 1 sekolah dasar, Ubed mulai berlatih di luar Madura. Ia pernah bergabung dengan PB Rahmat di Pati, kemudian berpindah ke sejumlah klub di Gresik, Surabaya, dan Klaten sebelum akhirnya lolos audisi PB Djarum pada akhir 2019. Saat itu usianya baru sekitar 12 tahun.
Keputusan meninggalkan rumah pada usia belia bukan perkara mudah. Ubed harus menjalani kehidupan sebagai atlet muda di asrama, jauh dari ayah dan ibunya.
Haryanti, ibu Ubed, mengingat masa-masa awal tersebut sebagai periode yang penuh tantangan. Ubed yang masih kecil kerap menangis ketika menelepon rumah karena rindu keluarga dan beratnya latihan.
“Latihannya kan berat, jadi kangen ke orang tuanya, apalagi masih kecil,” ujar Haryanti.
Pertemuan dengan keluarga pun menjadi sesuatu yang tidak selalu mudah dilakukan. Ubed hanya sesekali pulang ke Sampang. Ketika rasa rindu datang, telepon dan video call menjadi jembatan antara asrama di Kudus dan rumah keluarganya di Madura.
Dalam sebuah wawancara pada awal 2026, Ubed mengakui dirinya sering menangis karena rindu orang tua ketika tinggal di asrama. Namun, ia tidak membiarkan kerinduan itu menghentikan perjalanan yang sudah dipilihnya.
“Nggak mungkin aku berhenti,” kata Ubed ketika itu.
Sempat Lebih Memilih Layangan
Menariknya, perjalanan Ubed menuju level internasional tidak selalu berjalan lurus.
Haryanti mengungkapkan, putranya pernah berada pada fase ketika lebih tertarik bermain layangan dibandingkan berlatih bulu tangkis. Ubed bahkan sempat ingin berhenti.
Keluarga kemudian membujuk dan mengarahkannya kembali ke lapangan. Dari situlah semangatnya perlahan tumbuh lagi.
Bambang sendiri menjadi sosok penting dalam tahap awal perjalanan tersebut. Sebagai orang yang menyukai bulu tangkis, ia bukan hanya memperkenalkan olahraga itu kepada Ubed, tetapi juga menjadi pelatih pertama anaknya.
Pada akhir 2019, Ubed akhirnya diterima di PB Djarum melalui Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis. Ia menjadi salah satu dari 18 atlet yang lolos dari ribuan peserta audisi tahun tersebut.
Di Kudus, pembinaan Ubed tidak berhenti pada kemampuan teknis. Ayahnya memahami bahwa seorang atlet membutuhkan mental dan karakter untuk bertahan dalam perjalanan panjang.
“Bukan hanya urusan teknik bermain bulu tangkis saja yang dilatih, tapi juga karakter dan mentalnya yang dibentuk,” kata Bambang.
Dari Kegagalan Menuju Pelatnas
Perkembangan Ubed mulai terlihat dalam berbagai kompetisi junior dan nasional. Pada PON XXI Aceh-Sumut 2024, ia menjadi bagian dari tim Jawa Tengah yang merebut emas beregu putra. Di nomor tunggal putra, ia juga membawa pulang medali perak.
Namun, jalan menuju Pelatnas PBSI tidak langsung terbuka.
Pada Seleksi Nasional awal 2024, Ubed terhenti di perempat final. Kegagalan itu sempat membuatnya mempertanyakan arah perjalanan kariernya.
Ia bahkan sempat berpikir tentang apa yang akan terjadi jika tidak berhasil masuk Pelatnas.
Jawaban atas kegelisahan itu datang pada penghujung tahun. Ubed dipanggil masuk Pelatnas PBSI dan langsung ditempatkan di jajaran utama.
Bagi pemain kelahiran Sampang tersebut, kesempatan itu menjadi tahap baru. Ia harus belajar dari para pemain senior sekaligus mempersiapkan diri menghadapi persaingan di level internasional.
Dari Juara Asia Junior ke Panggung Senior
Tahun 2025 menjadi salah satu periode penting dalam perkembangan Ubed.
Pada Kejuaraan Asia Junior di Solo, ia menjadi juara setelah mengalahkan wakil China, Liu Yang Ming Yu, dua gim langsung 21-12, 21-17.
Beberapa bulan kemudian, Ubed kembali berhadapan dengan lawan yang sama di Kejuaraan Dunia Junior. Kali ini hasilnya berbeda. Ia kalah dan Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah dikalahkan China.
Kekalahan itu menjadi pengalaman penting bagi Ubed. Ia mengakui bahwa pikirannya tidak cukup tenang dan ambisinya untuk menjadi juara justru membuatnya kehilangan kendali dalam pertandingan.
Dari pengalaman tersebut, Ubed menyadari bahwa kemampuan fisik saja tidak cukup. Di level senior, ketenangan dan kemampuan mengelola tekanan menjadi bagian penting dari perjalanan seorang atlet.
Pelajaran itu kemudian mendapat ujian besar pada 2026.
Pada awal tahun, Ubed merebut gelar Thailand Masters, turnamen BWF World Tour Super 300. Ia mengalahkan pemain tuan rumah Panitchaphon Teeraratsakul dalam pertandingan tiga gim dengan skor 21-19, 20-22, 21-19. Ia menyebut dukungan penonton kepada lawan justru membuatnya semakin bersemangat.
Kemenangan tersebut dipersembahkannya kepada orang tua, keluarga, PBSI, PB Djarum, dan semua pihak yang mendukungnya.
Ketika Doa Itu Dibawa ke Lapangan
Beberapa bulan setelah kemenangan tersebut, Ubed berada dalam situasi yang jauh lebih besar.
Final beregu putra Asian Games mempertemukan Indonesia dengan China. Indonesia tertinggal 0-2 setelah dua pertandingan pertama. Alwi Farhan kemudian memperkecil ketertinggalan, sebelum Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Partai kelima menjadi penentu.
Ubed masuk ke lapangan dengan tekanan yang tidak kecil. Di seberangnya berdiri Weng Hongyang, pemain China berusia 27 tahun.
Sebelum pertandingan dimulai, Ubed kembali melakukan kebiasaan yang sudah menemaninya sejak kecil: menelepon orang tua dan meminta doa.
Ketegangan tetap ada.
Pada gim pertama, Weng bahkan lebih dahulu mencapai game point dengan keunggulan 20-16. Namun Ubed mampu menyelamatkan empat game point dan membalikkan keadaan. Ia merebut gim pertama 23-21.
Momentum itu kemudian dibawa ke gim kedua. Ubed tampil lebih terkendali dan menutup pertandingan dengan kemenangan 21-13 setelah bermain selama 51 menit.
Indonesia menang 3-2.
Bulu tangkis menjadi cabang olahraga pertama yang memberikan medali emas bagi Kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Ini menjadi medali emas pertama Indonesia di Asian Games nomor beregu putra badminton sejak 1998. Pencapaian ini terasa spesial bagi Ubed, mengingat dirinya berstatus debutan di pentas olahraga tertinggi se-Asia.
Suara dari Rumah yang Selalu Dibawa
Sesaat setelah pertandingan berakhir, rekan-rekan setim mengerubungi Ubed. Pelukan dan sorakan memenuhi lapangan.
Ia tidak sendirian memenangkan pertandingan tersebut. Ada rekan-rekan yang berjuang pada empat partai sebelumnya, ada pelatih yang terus memberikan instruksi dari pinggir lapangan, dan ada keluarga yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya kembali ketika tekanan datang.
Ubed mengatakan dukungan tim membuatnya mampu melewati ketegangan. Ia tidak ingin mengecewakan rekan-rekannya maupun semua orang yang telah memberikan dukungan.
Namun ada satu dukungan yang sudah lebih dulu hadir jauh sebelum Asian Games.
Dukungan itu datang dari rumah di Sampang.
Dari seorang ayah yang memperkenalkan raket kepada anaknya, seorang ibu yang harus terbiasa mendengar tangisan putranya melalui telepon, hingga keluarga yang tetap mendorongnya ketika ia pernah lebih memilih layangan daripada lapangan bulu tangkis.
Kini, telepon dari bangku pemain di Jepang memiliki cerita yang berbeda.
Ubed tidak lagi menelepon karena hanya merindukan rumah. Ia menelepon untuk meminta doa sebelum menjalankan tugas terbesar dalam karier mudanya.
Setelah panggilan itu berakhir, ia masuk ke lapangan.
Dua gim kemudian, Ubed keluar sebagai penentu emas Indonesia.
Dari Sampang, perjalanan seorang anak yang dulu harus menahan rindu akhirnya sampai pada salah satu panggung terbesar dalam kariernya. Dan seperti yang selalu ia lakukan sebelum bertanding, suara ayah dan ibunya tetap menjadi bagian dari langkahnya menuju kemenangan.
