Nasional

Fenomena Langka Golongan Darah Emas dan Upaya Ilmuwan Mengembangkannya di Laboratorium


Admin - ABBITV.com

25 Nov 2025 07:00 WIB

Fenomena Langka Golongan Darah Emas dan Upaya Ilmuwan Mengembangkannya di Laboratorium
Dokumentasi: Fenomena Langka Golongan Darah Emas dan Upaya Ilmuwan Mengembangkannya di Laboratorium - ABBITV
Jakarta, ABBITV.com — Golongan darah Rh-null atau yang dikenal sebagai golden blood menjadi salah satu fenomena medis terlangka di dunia karena jumlah pemiliknya diperkirakan tidak mencapai 50 orang.

Kelangkaan tersebut membuat tipe darah ini memiliki nilai penting dalam dunia kesehatan sekaligus mendorong penelitian untuk mereplikasinya secara ilmiah.
Rh-null merupakan golongan darah yang sepenuhnya tidak memiliki antigen Rhesus (Rh) pada permukaan sel darah merah.

Kondisi yang terjadi akibat mutasi genetik sangat jarang ini menghasilkan tipe darah dengan karakteristik berbeda dari golongan darah lain.

Mengutip NDTV, antigen atau protein di permukaan sel darah merah biasanya menentukan respons imun seseorang terhadap transfusi.

Namun pada Rh-null, seluruh antigen Rh tidak ada, sehingga tipe ini dapat menjadi donor kompatibel bagi hampir semua golongan darah lain.
Meski begitu, Otrock dari Cleveland Clinic menegaskan bahwa penyebutan golden blood hanya merujuk pada kelangkaannya dan bukan menandakan darah tersebut lebih baik atau lebih murni dibanding tipe darah lainnya.
Dalam konteks transfusi, pemilik Rh-null sering disebut donor universal dalam sistem Rhesus karena darah mereka tidak memicu reaksi imun terkait antigen Rh.

Namun sebaliknya, mereka hanya dapat menerima darah dari sesama pemilik Rh-null.

Sebagai perbandingan, golongan O Negatif juga dikenal sebagai donor universal karena tidak memiliki antigen A, B, dan Rh-D, tetapi tetap tidak dapat diberikan kepada Rh-null sebab masih memiliki antigen Rh lain.
“Inilah yang membuat transfusi bagi pemilik Rh-null sangat berisiko.

Jika menerima darah dengan antigen berbeda, tubuh akan membentuk antibodi dan bisa menyerang darah donor.

Transfusi berikutnya bisa sangat berbahaya,” ujar Ash Toye, profesor biologi sel di University of Bristol.
Karena jumlah pemiliknya sangat sedikit, ilmuwan berupaya mengembangkan Rh-null di laboratorium.

BBC melaporkan bahwa para peneliti mencoba menumbuhkan sel darah merah Rh-null dari sel punca yang diprogram ulang.

Selain itu, riset juga diarahkan pada teknologi pengeditan gen untuk menghilangkan antigen Rh dari sel darah biasa.

Pendekatan ini diharapkan memperluas pemanfaatan Rh-null dalam riset genetika golongan darah dan terapi masa depan.
Pada 2018, Ash Toye berhasil menggunakan CRISPR-Cas9 untuk menciptakan sel darah Rh-null, tetapi teknologi tersebut masih berada dalam pengawasan ketat dan belum dapat diterapkan secara langsung pada manusia.

Saat ini, ia bersama timnya sedang mengerjakan RESTORE, sebuah studi perdana yang menguji efektivitas sel darah merah buatan laboratorium ketika ditransfusikan ke tubuh manusia.

Sel darah merah tersebut dikembangkan dari sel punca donor, bukan diambil langsung dari tubuh manusia.
“Untuk saat ini, mengambil darah donor masih jauh lebih efisien dan murah.

Kita tetap akan membutuhkan pendonor untuk jangka panjang,” kata Toye.

Namun bagi pemilik golongan darah ultra langka, kemampuan menumbuhkan darah secara mandiri menjadi harapan besar.
Kelangkaan Rh-null menjadikannya istimewa, tetapi dampak potensialnya bagi dunia medis dapat sangat signifikan.

Jika penelitian laboratorium ini berhasil, masa depan transfusi darah — terutama untuk pasien dengan golongan darah sangat langka — bisa menjadi lebih aman dan terjamin.
← Home ← halaman sebelumnya