Bisnis
IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS (Rabu, 8 Oktober 2025)
08 Oct 2025 07:00 WIB
Dokumentasi: IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS (Rabu, 8 Oktober 2025) - ABBITV
JAKARTA, ABBITV.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di zona hijau pada awal perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8 Oktober 2025).
Sementara itu, nilai tukar rupiah justru terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Berdasarkan data RTI, pada pukul 09.02 WIB, IHSG bergerak di posisi 8.216,54, naik 47,26 poin atau 0,58 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level 8.169,28.
Sebanyak 263 saham bergerak di zona hijau, 172 saham melemah, dan 189 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 1,71 triliun dengan volume perdagangan sekitar 2,29 miliar saham.
Direktur Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan penguatan IHSG turut dipengaruhi oleh sentimen eksternal dari Amerika Serikat.
Ia mengatakan, Presiden AS Donald Trump berharap negaranya dan Kanada dapat mencapai kesepakatan perdagangan setelah mengalami ketegangan akibat persaingan bisnis yang sama.
“Dua negara ini tengah mengupayakan agar mampu mencapai kesepakatan dalam hal baja, aluminium, hingga energi,” ujar Nico.
Ia menambahkan, harga emas global juga mengalami kenaikan akibat penutupan (shutdown) pemerintahan AS dan krisis politik di Prancis.
Sementara di dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana memindahkan sebagian Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Bank Indonesia ke Bank Pembangunan Daerah (BPD), khususnya Bank Jatim dan Bank DKI, pada akhir 2025.
Kedua bank tersebut disebut menawarkan bunga yang lebih rendah dibandingkan pasar, sehingga memberikan keuntungan bagi pemerintah.
“Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance di level 8.070–8.217,” tambah Nico dalam analisisnya, Rabu (8/10/2025).
Analis sekaligus Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menambahkan bahwa IHSG sempat ditutup naik 0,36 persen, namun masih disertai dengan net sell asing senilai Rp 65 miliar.
Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBRI, EMTK, BMRI, BUMI, dan TPIA.
“IHSG berpotensi koreksi hari ini dengan support 8.050–8.150 dan resistance 8.200–8.250,” ujar Fanny.
Sementara itu, bursa kawasan Asia mayoritas dibuka melemah.
Strait Times turun 0,45 persen ke level 4.452,02, Shanghai Composite stagnan di 3.882,78, Nikkei melemah 0,06 persen di 47.922,39, dan Hang Seng merosot 1,58 persen ke 26.531,50.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah.
Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.22 WIB rupiah berada di level Rp 16.615 per dolar AS, melemah 54 poin atau 0,33 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.561 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih akan melemah terhadap dolar AS.
Ia menjelaskan penguatan mata uang AS terjadi karena sikap hawkish pejabat Federal Reserve (The Fed) seperti Jeff Schmid dan Neil Kashkari, yang menentang rencana pemangkasan suku bunga.
“Range pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran 16.500–16.650,” kata Lukman.
← Home
← halaman sebelumnya
Sementara itu, nilai tukar rupiah justru terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Berdasarkan data RTI, pada pukul 09.02 WIB, IHSG bergerak di posisi 8.216,54, naik 47,26 poin atau 0,58 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level 8.169,28.
Sebanyak 263 saham bergerak di zona hijau, 172 saham melemah, dan 189 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 1,71 triliun dengan volume perdagangan sekitar 2,29 miliar saham.
Direktur Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan penguatan IHSG turut dipengaruhi oleh sentimen eksternal dari Amerika Serikat.
Ia mengatakan, Presiden AS Donald Trump berharap negaranya dan Kanada dapat mencapai kesepakatan perdagangan setelah mengalami ketegangan akibat persaingan bisnis yang sama.
“Dua negara ini tengah mengupayakan agar mampu mencapai kesepakatan dalam hal baja, aluminium, hingga energi,” ujar Nico.
Ia menambahkan, harga emas global juga mengalami kenaikan akibat penutupan (shutdown) pemerintahan AS dan krisis politik di Prancis.
Sementara di dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana memindahkan sebagian Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Bank Indonesia ke Bank Pembangunan Daerah (BPD), khususnya Bank Jatim dan Bank DKI, pada akhir 2025.
Kedua bank tersebut disebut menawarkan bunga yang lebih rendah dibandingkan pasar, sehingga memberikan keuntungan bagi pemerintah.
“Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance di level 8.070–8.217,” tambah Nico dalam analisisnya, Rabu (8/10/2025).
Analis sekaligus Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menambahkan bahwa IHSG sempat ditutup naik 0,36 persen, namun masih disertai dengan net sell asing senilai Rp 65 miliar.
Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBRI, EMTK, BMRI, BUMI, dan TPIA.
“IHSG berpotensi koreksi hari ini dengan support 8.050–8.150 dan resistance 8.200–8.250,” ujar Fanny.
Sementara itu, bursa kawasan Asia mayoritas dibuka melemah.
Strait Times turun 0,45 persen ke level 4.452,02, Shanghai Composite stagnan di 3.882,78, Nikkei melemah 0,06 persen di 47.922,39, dan Hang Seng merosot 1,58 persen ke 26.531,50.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah.
Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.22 WIB rupiah berada di level Rp 16.615 per dolar AS, melemah 54 poin atau 0,33 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.561 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih akan melemah terhadap dolar AS.
Ia menjelaskan penguatan mata uang AS terjadi karena sikap hawkish pejabat Federal Reserve (The Fed) seperti Jeff Schmid dan Neil Kashkari, yang menentang rencana pemangkasan suku bunga.
“Range pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran 16.500–16.650,” kata Lukman.
