Institusi
Ribuan Mahasiswa UI Dorong Pencopotan Gus Yahya dari Majelis Wali Amanat
17 Sep 2025 07:00 WIB
Dokumentasi: Ribuan Mahasiswa UI Dorong Pencopotan Gus Yahya dari Majelis Wali Amanat - ABBITV
Jakarta, ABBITV.com– Ribuan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang tergabung dalam Komunitas Kolektif Mahasiswa UI Peduli Keadilan Palestina meluncurkan petisi pencopotan Yahya Cholil Staquf dari Majelis Wali Amanat (MWA) UI.
Petisi bertajuk “Dukung Pencopotan Yahya Cholil Staquf dari Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia” dibuat pada Jumat (12/9/2025).
Hingga Selasa pagi (16/9), tercatat 2.332 mahasiswa telah menandatangani dukungan.
Yahya, Ketua MWA UI periode 2024–2029, menuai kritik usai mengundang akademikus pro-Zionis asal Amerika Serikat, Peter Berkowitz, sebagai pembicara di acara UI pada Sabtu (23/8).
Universitas Indonesia Student for Justice in Palestine (UI SJP) menilai langkah Yahya bertentangan dengan sembilan nilai UI.
Mereka menilai Yahya memiliki rekam jejak kontroversial, termasuk kunjungannya bersama PBNU ke Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 2018.
“Upaya membersihkan nama besar UI dari afiliasi Zionisme,” tulis UI SJP dalam latar belakang petisi.
Menurut UI SJP, kehadiran Berkowitz merusak nilai keadilan dan kemartabatan kampus, serta melukai Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Petisi yang terbuka bagi civitas akademika dan alumni UI itu rencananya akan diadvokasi UI SJP melalui rapat bersama Rektor UI dan perwakilan mahasiswa di MWA.
Yahya mengaku dirinya sebagai inisiator undangan Berkowitz dan telah meminta maaf kepada publik serta Rektor UI.
“Saya membuat keputusan tanpa pertimbangan teliti dan lengkap.
Karena saya tidak ngeh tentang track record dia sebagai Zionis,” ujar Yahya pada Selasa (26/8).
Ia menambahkan, penilaiannya terhadap Berkowitz hanya berdasarkan latar belakangnya sebagai profesor hukum Stanford dan mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS yang pernah terlibat dalam wacana hak asasi manusia.
“Setelah acara UI ramai, baru saya tahu, baru ngeh,” ucapnya.
Guru Besar Sejarah dan Pengamat Timur Tengah UI, Yon Mahmudi, menilai kasus ini mempermalukan kampus.
“Harus dibentuk tim investigasi yang transparan untuk menjelaskan di balik peristiwa ini.
Apakah murni ketidaktahuan atau ada pihak di UI yang punya kontak dengan sosok ini,” katanya.
Yon menegaskan, insiden ini telah mencoreng nama UI di mata publik dan tidak sejalan dengan sikap resmi Indonesia yang konsisten mendukung Palestina.
← Home
← halaman sebelumnya
Petisi bertajuk “Dukung Pencopotan Yahya Cholil Staquf dari Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia” dibuat pada Jumat (12/9/2025).
Hingga Selasa pagi (16/9), tercatat 2.332 mahasiswa telah menandatangani dukungan.
Yahya, Ketua MWA UI periode 2024–2029, menuai kritik usai mengundang akademikus pro-Zionis asal Amerika Serikat, Peter Berkowitz, sebagai pembicara di acara UI pada Sabtu (23/8).
Universitas Indonesia Student for Justice in Palestine (UI SJP) menilai langkah Yahya bertentangan dengan sembilan nilai UI.
Mereka menilai Yahya memiliki rekam jejak kontroversial, termasuk kunjungannya bersama PBNU ke Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 2018.
“Upaya membersihkan nama besar UI dari afiliasi Zionisme,” tulis UI SJP dalam latar belakang petisi.
Menurut UI SJP, kehadiran Berkowitz merusak nilai keadilan dan kemartabatan kampus, serta melukai Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Petisi yang terbuka bagi civitas akademika dan alumni UI itu rencananya akan diadvokasi UI SJP melalui rapat bersama Rektor UI dan perwakilan mahasiswa di MWA.
Yahya mengaku dirinya sebagai inisiator undangan Berkowitz dan telah meminta maaf kepada publik serta Rektor UI.
“Saya membuat keputusan tanpa pertimbangan teliti dan lengkap.
Karena saya tidak ngeh tentang track record dia sebagai Zionis,” ujar Yahya pada Selasa (26/8).
Ia menambahkan, penilaiannya terhadap Berkowitz hanya berdasarkan latar belakangnya sebagai profesor hukum Stanford dan mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS yang pernah terlibat dalam wacana hak asasi manusia.
“Setelah acara UI ramai, baru saya tahu, baru ngeh,” ucapnya.
Guru Besar Sejarah dan Pengamat Timur Tengah UI, Yon Mahmudi, menilai kasus ini mempermalukan kampus.
“Harus dibentuk tim investigasi yang transparan untuk menjelaskan di balik peristiwa ini.
Apakah murni ketidaktahuan atau ada pihak di UI yang punya kontak dengan sosok ini,” katanya.
Yon menegaskan, insiden ini telah mencoreng nama UI di mata publik dan tidak sejalan dengan sikap resmi Indonesia yang konsisten mendukung Palestina.
