Internasional
Kesaksian Aktivis Global Sumud Flotilla Ungkap Penyiksaan di Tahanan Israel
06 Oct 2025 07:00 WIB
Dokumentasi: Kesaksian Aktivis Global Sumud Flotilla Ungkap Penyiksaan di Tahanan Israel - ABBITV
Jakarta, ABBITV.com — Para aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) mengaku mengalami beragam bentuk penyiksaan selama ditahan oleh otoritas Israel, usai kapal pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza dibajak oleh militer negara tersebut.
Tim kuasa hukum para aktivis dari organisasi hukum Adalah mengungkap adanya berbagai pelanggaran serius yang dilakukan Israel, mulai dari kekerasan fisik hingga pelarangan akses terhadap obat-obatan.
Informasi mengenai penyiksaan ini muncul beberapa hari setelah Adalah menyatakan bahwa sejumlah aktivis dipaksa berlutut dengan tangan terikat kabel selama sedikitnya lima jam.
Organisasi Adalah, yang dikenal memperjuangkan hak-hak minoritas Arab di Israel, menyebut telah bertemu lebih dari 80 peserta GSF dalam dua hari terakhir di Penjara Ktziot, Israel selatan.
Berdasarkan kesaksian para aktivis, pihak Israel menghalangi akses terhadap obat-obatan penting seperti resep tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan kanker.
“Para peserta ditahan di sel yang penuh sesak, dan beberapa peserta dipaksa tidur di lantai dalam kondisi yang keras dan tidak sehat,” ujar perwakilan Adalah dikutip pada Minggu (5/10).
Laporan itu juga menyebut bahwa otoritas Israel menggunakan kekerasan fisik terhadap sejumlah tahanan, hingga menyebabkan salah satu aktivis mengalami luka di tangan.
Beberapa peserta lain dilaporkan ditutup matanya dan diborgol dalam waktu lama.
“Beberapa peserta melaporkan bahwa mereka diinterogasi oleh petugas tak dikenal, dan yang lainnya melaporkan penganiayaan serta penyiksaan oleh sipir penjara,” imbuh Adalah.
Kementerian Luar Negeri Israel membantah tudingan tersebut dan menyebut kesaksian para aktivis sebagai kebohongan.
Pihaknya mengeklaim bahwa seluruh hak hukum para tahanan telah ditegakkan.
“Semua hak hukum para tahanan sepenuhnya ditegakkan,” klaim Kemlu Israel melalui akun X.
Dalam pernyataannya kepada CNN, kementerian itu juga menegaskan bahwa para aktivis mendapatkan makanan, air, dan obat-obatan yang diperlukan.
Namun, klaim tersebut bertentangan dengan kesaksian sejumlah aktivis GSF yang telah dibebaskan dan dideportasi.
Mereka menuturkan berbagai bentuk penyiksaan, termasuk yang dialami aktivis lingkungan Greta Thunberg.
Jurnalis Turki, Ersin Celik, mengatakan menyaksikan tentara Israel “menyiksa Greta Thunberg,” dengan cara menyeretnya di tanah dan memaksanya mencium bendera Israel.
Aktivis Malaysia, Hazwani Helmi, dan peserta asal Amerika Serikat, Windfield Beaver, juga menyampaikan kesaksian serupa.
“Itu bencana.
Mereka memperlakukan kami seperti binatang,” ujar Helmi, menambahkan bahwa tahanan tidak diberi makanan, air bersih, atau obat-obatan.
Jurnalis Italia, Lorenzo Agostino, juga menegaskan bahwa Thunberg “dihina, dililit bendera Israel, dan dipertontonkan layaknya trofi.”
Kesaksian lain datang dari presenter televisi Turki, Ikbal Gurpinar, yang menyebut tentara Israel “memperlakukan kami seperti anjing.”
“Mereka membiarkan kami kelaparan selama tiga hari.
Mereka tidak memberi kami air; kami terpaksa minum dari toilet.
Hari itu sangat panas, dan kami semua hampir terbakar,” ungkap Gurpinar, dikutip Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa pengalaman tersebut memberinya “pemahaman lebih baik tentang kondisi Gaza.”
Sementara itu, aktivis Turki Aycin Kantoglu menggambarkan kondisi penjara yang mengerikan, dengan tembok berlumuran darah dan coretan pesan dari para tahanan sebelumnya.
“Kami melihat para ibu menuliskan nama anak-anak mereka di dinding.
Kami benar-benar merasakan sedikit dari apa yang dialami warga Palestina,” ujarnya.
Hingga kini, genosida yang dilakukan Israel telah menewaskan sedikitnya 67.139 warga Palestina, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza.
Mayoritas korban merupakan warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak.
← Home
← halaman sebelumnya
Tim kuasa hukum para aktivis dari organisasi hukum Adalah mengungkap adanya berbagai pelanggaran serius yang dilakukan Israel, mulai dari kekerasan fisik hingga pelarangan akses terhadap obat-obatan.
Informasi mengenai penyiksaan ini muncul beberapa hari setelah Adalah menyatakan bahwa sejumlah aktivis dipaksa berlutut dengan tangan terikat kabel selama sedikitnya lima jam.
Organisasi Adalah, yang dikenal memperjuangkan hak-hak minoritas Arab di Israel, menyebut telah bertemu lebih dari 80 peserta GSF dalam dua hari terakhir di Penjara Ktziot, Israel selatan.
Berdasarkan kesaksian para aktivis, pihak Israel menghalangi akses terhadap obat-obatan penting seperti resep tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan kanker.
“Para peserta ditahan di sel yang penuh sesak, dan beberapa peserta dipaksa tidur di lantai dalam kondisi yang keras dan tidak sehat,” ujar perwakilan Adalah dikutip pada Minggu (5/10).
Laporan itu juga menyebut bahwa otoritas Israel menggunakan kekerasan fisik terhadap sejumlah tahanan, hingga menyebabkan salah satu aktivis mengalami luka di tangan.
Beberapa peserta lain dilaporkan ditutup matanya dan diborgol dalam waktu lama.
“Beberapa peserta melaporkan bahwa mereka diinterogasi oleh petugas tak dikenal, dan yang lainnya melaporkan penganiayaan serta penyiksaan oleh sipir penjara,” imbuh Adalah.
Kementerian Luar Negeri Israel membantah tudingan tersebut dan menyebut kesaksian para aktivis sebagai kebohongan.
Pihaknya mengeklaim bahwa seluruh hak hukum para tahanan telah ditegakkan.
“Semua hak hukum para tahanan sepenuhnya ditegakkan,” klaim Kemlu Israel melalui akun X.
Dalam pernyataannya kepada CNN, kementerian itu juga menegaskan bahwa para aktivis mendapatkan makanan, air, dan obat-obatan yang diperlukan.
Namun, klaim tersebut bertentangan dengan kesaksian sejumlah aktivis GSF yang telah dibebaskan dan dideportasi.
Mereka menuturkan berbagai bentuk penyiksaan, termasuk yang dialami aktivis lingkungan Greta Thunberg.
Jurnalis Turki, Ersin Celik, mengatakan menyaksikan tentara Israel “menyiksa Greta Thunberg,” dengan cara menyeretnya di tanah dan memaksanya mencium bendera Israel.
Aktivis Malaysia, Hazwani Helmi, dan peserta asal Amerika Serikat, Windfield Beaver, juga menyampaikan kesaksian serupa.
“Itu bencana.
Mereka memperlakukan kami seperti binatang,” ujar Helmi, menambahkan bahwa tahanan tidak diberi makanan, air bersih, atau obat-obatan.
Jurnalis Italia, Lorenzo Agostino, juga menegaskan bahwa Thunberg “dihina, dililit bendera Israel, dan dipertontonkan layaknya trofi.”
Kesaksian lain datang dari presenter televisi Turki, Ikbal Gurpinar, yang menyebut tentara Israel “memperlakukan kami seperti anjing.”
“Mereka membiarkan kami kelaparan selama tiga hari.
Mereka tidak memberi kami air; kami terpaksa minum dari toilet.
Hari itu sangat panas, dan kami semua hampir terbakar,” ungkap Gurpinar, dikutip Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa pengalaman tersebut memberinya “pemahaman lebih baik tentang kondisi Gaza.”
Sementara itu, aktivis Turki Aycin Kantoglu menggambarkan kondisi penjara yang mengerikan, dengan tembok berlumuran darah dan coretan pesan dari para tahanan sebelumnya.
“Kami melihat para ibu menuliskan nama anak-anak mereka di dinding.
Kami benar-benar merasakan sedikit dari apa yang dialami warga Palestina,” ujarnya.
Hingga kini, genosida yang dilakukan Israel telah menewaskan sedikitnya 67.139 warga Palestina, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza.
Mayoritas korban merupakan warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak.
