Nasional
Menjelang Satu Tahun Pemerintahan, Prabowo-Gibran Dinilai Tunjukkan Ciri Populisme Otoritarian
08 Oct 2025 07:00 WIB
Dokumentasi: Menjelang Satu Tahun Pemerintahan, Prabowo-Gibran Dinilai Tunjukkan Ciri Populisme Otoritarian - ABBITV
ABBITV.com - Menjelang satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, arah politik nasional dinilai semakin menjauh dari semangat demokrasi.
Pemikir kebhinekaan Sukidi menilai wajah kekuasaan saat ini semakin kental dengan populisme otoritarian, di mana gaya kepemimpinan penguasa mengusung retorika pro-rakyat namun tidak benar-benar menghadirkan keadilan bagi rakyat.
“Populisme sekarang dipakai sebagai instrumen untuk memberi kesan bahwa pemerintah pro-rakyat, tapi sebenarnya tidak menjiwai penderitaan rakyat itu sendiri,” ujar Sukidi dalam Dialog Forum Warga Negara bertajuk Bisul-Bisul Permasalahan Bangsa, di Mana Akarnya? yang digelar di Jakarta pada Selasa (7/10).
Sukidi menyebut populisme otoritarian kini menjadi pola kepemimpinan baru di Indonesia.
Menurutnya, populisme dijadikan senjata untuk menarik simpati rakyat, namun diterapkan dengan perilaku pemerintahan yang bergaya otoritarian.
“Manajemen ketakutan dan teror kini bergentayangan di sekitar kita.
Kita seolah masih hidup di negara demokratis, padahal sebenarnya itu sudah berlalu,” tukasnya.
Ia juga menilai tanda-tanda otoritarianisme modern terlihat dari matinya sistem meritokrasi, di mana loyalitas lebih dihargai daripada kompetensi.
“Yang berkembang sekarang adalah sistem kakistokrasi yang terpilih bukan yang berkompeten, tapi yang paling loyal kepada pemimpin,” kata Sukidi.
Selain itu, ia menyoroti kesulitan ekonomi yang menimpa kelas menengah, terutama kelompok aspiring middle class yang kini menjadi rentan miskin.
Menurutnya, hal itu tercermin dalam demonstrasi yang terjadi pada akhir Agustus lalu.
“Kelas menengah kita semakin banyak yang terpuruk.
Mereka tidak tersentuh kebijakan negara, dan inilah akar dari kemarahan populis yang muncul di masyarakat.
Demo Agustus lalu adalah ekspresi kelas pekerja dan kelas menengah terhadap elite dan kebijakan pemerintah yang tidak adil,” ujarnya.
Sukidi menambahkan, maraknya protes sosial tersebut terjadi karena saluran perubahan di institusi formal mengalami kemacetan.
“Anak-anak muda turun ke jalan karena perubahan di institusi formal tidak berjalan.
Mereka memilih jalan protes untuk menuntut keadilan bagi rakyat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sukidi mengkritik hilangnya etika bela rasa di kalangan pengurus negara yang dinilainya semakin abai terhadap penderitaan rakyat.
“Para pengurus negara kehilangan etika bela rasa.
Rakyat makin berat hidupnya, pinjaman online meningkat, pendapatan tidak naik, sementara kebutuhan semakin mahal,” ujarnya.
Ia juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya hanya menjadi alat politik menjelang Pemilu 2029.
“Tidak ada teori yang mengatakan kemajuan negara ditentukan oleh MBG.
Ketika anggaran pendidikan digeser ke MBG, itu menandakan kebangkitan populisme otoritarianisme,” ungkapnya.
Sukidi mengingatkan bahwa budaya memuji pemimpin justru dapat menghancurkan sistem kepemimpinan nasional.
Ia menyerukan agar para penyelenggara negara, intelektual, dan warga berani menyuarakan kebenaran meski pahit bagi penguasa.
“Pendidikan diabaikan, sementara anggaran pertahanan dan proyek besar justru meningkat.
Karena itu, kita terpanggil untuk bersuara, itu tanggung jawab moral kita,” katanya.
Sebagai penutup, Sukidi mengajukan langkah-langkah perbaikan tata kelola pemerintahan ke depan, termasuk mengembalikan sistem meritokrasi sebagai fondasi utama kemajuan bangsa, menegakkan supremasi nilai-nilai keadaban publik, dan menumbuhkan kebaikan dalam kehidupan bernegara.
“Tidak ada bangsa maju tanpa meritokrasi dan nilai-nilai keadaban.
Republik tanpa kebajikan bukanlah republik sama sekali.
Kita harus menghidupkan kembali semangat republik ini dengan nilai-nilai keutamaan publik yang diwariskan oleh para pendiri bangsa,” pungkasnya.
← Home
← halaman sebelumnya
Pemikir kebhinekaan Sukidi menilai wajah kekuasaan saat ini semakin kental dengan populisme otoritarian, di mana gaya kepemimpinan penguasa mengusung retorika pro-rakyat namun tidak benar-benar menghadirkan keadilan bagi rakyat.
“Populisme sekarang dipakai sebagai instrumen untuk memberi kesan bahwa pemerintah pro-rakyat, tapi sebenarnya tidak menjiwai penderitaan rakyat itu sendiri,” ujar Sukidi dalam Dialog Forum Warga Negara bertajuk Bisul-Bisul Permasalahan Bangsa, di Mana Akarnya? yang digelar di Jakarta pada Selasa (7/10).
Sukidi menyebut populisme otoritarian kini menjadi pola kepemimpinan baru di Indonesia.
Menurutnya, populisme dijadikan senjata untuk menarik simpati rakyat, namun diterapkan dengan perilaku pemerintahan yang bergaya otoritarian.
“Manajemen ketakutan dan teror kini bergentayangan di sekitar kita.
Kita seolah masih hidup di negara demokratis, padahal sebenarnya itu sudah berlalu,” tukasnya.
Ia juga menilai tanda-tanda otoritarianisme modern terlihat dari matinya sistem meritokrasi, di mana loyalitas lebih dihargai daripada kompetensi.
“Yang berkembang sekarang adalah sistem kakistokrasi yang terpilih bukan yang berkompeten, tapi yang paling loyal kepada pemimpin,” kata Sukidi.
Selain itu, ia menyoroti kesulitan ekonomi yang menimpa kelas menengah, terutama kelompok aspiring middle class yang kini menjadi rentan miskin.
Menurutnya, hal itu tercermin dalam demonstrasi yang terjadi pada akhir Agustus lalu.
“Kelas menengah kita semakin banyak yang terpuruk.
Mereka tidak tersentuh kebijakan negara, dan inilah akar dari kemarahan populis yang muncul di masyarakat.
Demo Agustus lalu adalah ekspresi kelas pekerja dan kelas menengah terhadap elite dan kebijakan pemerintah yang tidak adil,” ujarnya.
Sukidi menambahkan, maraknya protes sosial tersebut terjadi karena saluran perubahan di institusi formal mengalami kemacetan.
“Anak-anak muda turun ke jalan karena perubahan di institusi formal tidak berjalan.
Mereka memilih jalan protes untuk menuntut keadilan bagi rakyat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sukidi mengkritik hilangnya etika bela rasa di kalangan pengurus negara yang dinilainya semakin abai terhadap penderitaan rakyat.
“Para pengurus negara kehilangan etika bela rasa.
Rakyat makin berat hidupnya, pinjaman online meningkat, pendapatan tidak naik, sementara kebutuhan semakin mahal,” ujarnya.
Ia juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya hanya menjadi alat politik menjelang Pemilu 2029.
“Tidak ada teori yang mengatakan kemajuan negara ditentukan oleh MBG.
Ketika anggaran pendidikan digeser ke MBG, itu menandakan kebangkitan populisme otoritarianisme,” ungkapnya.
Sukidi mengingatkan bahwa budaya memuji pemimpin justru dapat menghancurkan sistem kepemimpinan nasional.
Ia menyerukan agar para penyelenggara negara, intelektual, dan warga berani menyuarakan kebenaran meski pahit bagi penguasa.
“Pendidikan diabaikan, sementara anggaran pertahanan dan proyek besar justru meningkat.
Karena itu, kita terpanggil untuk bersuara, itu tanggung jawab moral kita,” katanya.
Sebagai penutup, Sukidi mengajukan langkah-langkah perbaikan tata kelola pemerintahan ke depan, termasuk mengembalikan sistem meritokrasi sebagai fondasi utama kemajuan bangsa, menegakkan supremasi nilai-nilai keadaban publik, dan menumbuhkan kebaikan dalam kehidupan bernegara.
“Tidak ada bangsa maju tanpa meritokrasi dan nilai-nilai keadaban.
Republik tanpa kebajikan bukanlah republik sama sekali.
Kita harus menghidupkan kembali semangat republik ini dengan nilai-nilai keutamaan publik yang diwariskan oleh para pendiri bangsa,” pungkasnya.
