Kriminal
Tragedi Ayah Tiri di Bengkulu Tengah Menguak Ketegangan Rumah Tangga yang Lama Terpendam
19 Nov 2025 07:00 WIB
Dokumentasi: Tragedi Ayah Tiri di Bengkulu Tengah Menguak Ketegangan Rumah Tangga yang Lama Terpendam - ABBITV
BENGKULU TENGAH (Rabu, 5 November 2025) – Kasus pembunuhan anak tiri di Kecamatan Karang Tinggi, Bengkulu Tengah, mengungkap fakta baru soal retaknya hubungan dalam rumah tangga yang selama ini tidak terlihat dari luar.
Polisi menyebut ketegangan antara pelaku dan korban telah berlangsung lama dan membayangi suasana rumah mereka.Kasatreskrim Polres Bengkulu Tengah, AKP Junairi, menjelaskan bahwa pelaku berinisial Sa (52) berada dalam kondisi was-was dan ketakutan beberapa hari sebelum insiden terjadi.
“Pelaku mengaku selalu membawa parang karena merasa harus berjaga-jaga,” kata AKP Junairi.Menurut polisi, keributan kecil, kesalahpahaman yang tak pernah selesai, hingga rasa saling tidak percaya membuat rumah tangga itu seperti “bara yang pelan-pelan membakar dari dalam”.
Ketegangan tersebut kemudian memuncak pada insiden berdarah pada Rabu pagi.Parang yang selama ini dianggap sebagai alat pelindung berubah menjadi senjata yang mengakhiri nyawa anak tiri pelaku yang tinggal satu atap dengannya.
Polisi menyebut tindakan impulsif ini bukan hanya merenggut satu nyawa, tetapi juga memecah keutuhan keluarga dan meninggalkan luka panjang yang sulit dipulihkan.Hingga kini, penyidik Polres Bengkulu Tengah masih mendalami motif dan dinamika hubungan pelaku dan korban.
Polisi mengumpulkan keterangan saksi serta menelusuri kembali jejak ketegangan rumah tangga untuk memastikan apakah ada faktor lain yang memperburuk hubungan keduanya.
“Kita masih melakukan pendalaman lanjutan, baik dari saksi maupun hasil olah TKP,” ujar AKP Junairi.Tragedi ini memperlihatkan kenyataan pahit bahwa kekerasan dalam keluarga kerap dipicu hal-hal kecil seperti mispersepsi, ketakutan, atau jarak emosional yang tidak pernah terselesaikan.
Di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman, justru tumbuh kegelisahan yang akhirnya mematangkan malapetaka.
Semua yang terjadi kemudian hanya meninggalkan penyesalan yang sulit dijangkau kata-kata.
← Home
← halaman sebelumnya
Polisi menyebut ketegangan antara pelaku dan korban telah berlangsung lama dan membayangi suasana rumah mereka.Kasatreskrim Polres Bengkulu Tengah, AKP Junairi, menjelaskan bahwa pelaku berinisial Sa (52) berada dalam kondisi was-was dan ketakutan beberapa hari sebelum insiden terjadi.
“Pelaku mengaku selalu membawa parang karena merasa harus berjaga-jaga,” kata AKP Junairi.Menurut polisi, keributan kecil, kesalahpahaman yang tak pernah selesai, hingga rasa saling tidak percaya membuat rumah tangga itu seperti “bara yang pelan-pelan membakar dari dalam”.
Ketegangan tersebut kemudian memuncak pada insiden berdarah pada Rabu pagi.Parang yang selama ini dianggap sebagai alat pelindung berubah menjadi senjata yang mengakhiri nyawa anak tiri pelaku yang tinggal satu atap dengannya.
Polisi menyebut tindakan impulsif ini bukan hanya merenggut satu nyawa, tetapi juga memecah keutuhan keluarga dan meninggalkan luka panjang yang sulit dipulihkan.Hingga kini, penyidik Polres Bengkulu Tengah masih mendalami motif dan dinamika hubungan pelaku dan korban.
Polisi mengumpulkan keterangan saksi serta menelusuri kembali jejak ketegangan rumah tangga untuk memastikan apakah ada faktor lain yang memperburuk hubungan keduanya.
“Kita masih melakukan pendalaman lanjutan, baik dari saksi maupun hasil olah TKP,” ujar AKP Junairi.Tragedi ini memperlihatkan kenyataan pahit bahwa kekerasan dalam keluarga kerap dipicu hal-hal kecil seperti mispersepsi, ketakutan, atau jarak emosional yang tidak pernah terselesaikan.
Di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman, justru tumbuh kegelisahan yang akhirnya mematangkan malapetaka.
Semua yang terjadi kemudian hanya meninggalkan penyesalan yang sulit dijangkau kata-kata.
